Sebagai orang yang hidup mengapung dalam ketidakpastian dan jarang sekali mengandalkan rencana yang pasti, dan cenderung sangat fleksibel terhadap apa yang akan terjadi ke depannya membuat aku mempertanyakan dan meragukan banyak hal ketika hidup di Jepang saat ini.
Di bulan April setiap tahunnya, sudah menjadi siklus peralihan kehidupan masyarakat di sini. Dari sekolah ke sekolah, sekolah ke universitas, universitas ke pekerjaan. Menjadi masyarakat sosial(社会人) katanya. Gaji, kepastian mendapat pekerjaan, kemungkinan membeli mobil, ketepatan waktu transportasi publik, dsb, membuat hidupku yang menyentuh bulan ke 6 hidup di negara ini mulai mempertanyakan, “Apakah aku bisa?”
Well, lebih tepatnya meragukan pilihan dan keputusan yang ku ambil, “kenapa aku bisa berada di sini.” Sebagai orang yang selalu mencari segala hal ke atas sana (iman), hidup di Jepang sangatlah kontras. Mereka (orang Jepang) percaya dengan kemampuan mereka, rencana yang mereka buat, serta sistem yang terstruktur, tanpa koar-koar “tidak percaya tuhan.” Mereka bisa hidup seperti itu “saja,” lagi, tanpa koar-koar tidak percaya tuhan!
Dengan kepastian yang ada, terkadang aku pun meragukan kepastian tersebut, “kalau segala macam hal itu pasti, kenapa masih ada orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ya?” Well, yaa pasti akan banyak variabel yang terjadi, namun bukankah mengecilnya persentase ketidakpastian bisa berakibat mengecilnya angka kemungkinan orang mengakhiri hidupnya?
Atau karena kepastian itulah orang-orang jadi bisa memprediksi kalau kehidupan mereka tidak akan bekerja, lantas mereka mengakhiri hidupnya? Cabang berpikirnya terlalu banyak.
Dengan begitu, acapkali kita melihat orang Jepang hidup seperti robot, mungkin ada benarnya juga. Sekolah dan belajar apapun tanpa emosi, berusaha memahami materi yang rumit tanpa perasan, terkadang justru malah berhasil karena kita belajar dengan sistem dan struktur, bukan berdasarkan mood.
Lanjut, bekerja tanpa baper, kita bekerja ya bekerja saja, kerjakan apa saja yang sudah menjadi job desk kita, setelah setengah hari kita istirahat, lalu lanjut bekerja lagi. Di akhir waktu ketika sudah selesai ya pulang atau selesai pekerjaan, lalu pamit ke rekan kerja untuk member tahu kalau kita sudah selesai dan akan pulang. Simple.
Opiniku, emosi baru kita salurkan pada hal-hal yang memang perlu untuk kita libatkan di dalamnya, sebagai contoh pasangan, keluarga, anak, orang tua, hobi. Bahkan teman terkadang tidak perlu sebegitunya kita libatkan dalam emosi kita kalau kita tidak sedekat itu, dengan kata lain berteman secukupnya.