Ketika masih di Indonesia, aku berpikir kalau setelah menginjakkan kaki di negeri orang udah ngga bakalan khawatir lagi sama hidupku, pencapaian, kekayaan, selagi aku masih bisa hidup aku akan baik-baik saja.

Namun, ternyata cara mainnya ngga gitu. Waktu itu yang aku pikirkan hanyalah gimana caranya aku bisa kuliah ke luar negeri, tidak ada tujuan lain, hanya kuliah lanjut di luar negeri. Tujuanku hanya satu itu dan tidak ada yang lain, aku ngga kepikiran gimana nanti aku perginya, gimana nanti aku hidupnya, makannya, mendapatkan income ketika hidup di sana alias untuk hidup sehari-hari aku tidak memikirkannya.

Sampai impian itu terwujud dan aku betul-betul berangkat. Naik pesawat sendirian, benar-benar waktu paling sendirian dalam hidupku. Kehilangan, kebingungan, tersesat.


6 bulan sudah berlalu, ramadhan sudah selesai, dan tulisan ini secara spontan tanpa ada kerangka apapun aku tulis di hari lebaran (menurut Rukyat Jepang, 2026.03.21). Terkadang aku masih tidak menyangka, kok bisa aku hidup 6 bulan lamanya di Jepang, sedang uang juga pas-pasan, dan kalau kita lihat kreator konten di luaran saya yang men-spill budget untuk liburan ke Jepang, wow banyak sekali nominalnya, yang bahkan mungkin uang segitu bisa untuk aku hidup berbulan-bulan kalau dihitung-hitung ke belakang.

Iya, memang faktanya aku hidup dari beasiswa sebagai mahasiswa master, namun kalau mau coba di pikirkan secara tenang,

hey aku hidup selama 6 bulan!!

di negara orang!!

tidak ada orang di sekeliling ku yang pernah hidup di luar negeri selama ini dan ngasih tau how-to nya hidup di luar negeri!!!

Isn’t it incredible??!!


Beberapa kali dan kalimat yang membuat aku senang adalah ketika orang tua (terutama Ibu, karena yang sering kutelpon dan menelpon adalah Ibu) menyampaikan kalau,

“Eh Fik, tau nggak, kita (kamu) itu jadi contoh loh buat anak-anaknya temennya ibuk”; atau

“Gara-gara kamu tuh jadi pada pengin ke Jepang loh”; atau

“Fik gara-gara kamu, temen-temennya ibuk anaknya pada mau disekolahin di SMA (nama SMA adikku) terus kuliahnya di Amikom, katanya biar habis itu bisa ke Jepang kayak Mas Fikri.”

Jujur, cerita ibuku semacam itu membuatku senang, senang bukan karena aku diunggulkan, bukan karena seakan hidupku bermakna, atau jadi influencer di kalangan ibu-ibu temannya ibuku. Namun, kebahagiaan itu justru aku rasakan karena ibuku senang, ketika anaknya yang dia ketahui kekurangannya dan dia percayai kelebihannya menjadi contoh orang lain.

Bukan tentang aku, tapi ketika orang tuaku senang, aku ikut senang.


Aku bersyukur mendengar cerita itu, cerita tentang orang-orang yang awam akan hidup di negara orang, rasa khawatir yang menghantui setiap harinya, pertanyaan dalam diri sendiri “apakah aku akan berhasil?”

Bahasa yang sangat asing, namun belakangan mulai masuk akal, dan itulah hal yang bisa kusyukuri setiap harinya, setiap detiknya ketika aku berhasil bisa membaca huruf kanji.

“ Apakah aku akan berhasil?”

Mungkin kalimat pertanyaan yang umum diucapkan tidak hanya para pelajar di luar negeri, namun semua orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, dan tidak harus yang berada di luar negeri.

Kendala bahasa, ketakutan apakah bisa mendapat pekerjaan setelah lulus? sebelum itu apakah bisa lolos wawancara kerja? sebelum wawancara kerja juga apakah bisa berbicara bahasa Jepang dengan lancar? semua kekhawatiran itu sangat nyata.

Apakah aku akan lanjut kuliah doktoral? entahlah, seakan rencana tersebut penuh dengan kabut yang menutupi arah jalan menuju ke sana. Maka dari itu aku mempertimbangkan untuk lanjut kerja setelah kuliah master.