Pagi ini, 2026-01-23, aku bangun tidur dengan perasaan galau. “Argh, ketemu matkul itu lagi, kelompoknya rese ngga bisa diandelin.”

Ditambah kekhawatiran tentang finansial, pekerjaan, kemampuan bahasa Jepang, riset, serta pertanyaan semacam “masih bisa hidup setahun ke depan ngga ya, atau pulang aja?,” dan banyak ketakutan lainnya. Yang kalau dipikir lagi sebenarnya itu ngga ada. Kita sedang hidup di saat ini, ada tempat bernaung, bisa makan, dan masih bangun tidur dengan kaki kuat berpijak adalah anugerah yang tuhan berikan yang seringkali kita lupakan.

Singkat cerita, ketika aku sedang menyiapkan sarapan, di depan microwave, berdiri selama 2,5 menit, ngelamun mengkhawatirkan itu semua.

Tiba-tiba roomate-ku yang dari Sri Lanka memanggilku.

"Fikri!" panggilnya.
"Oi," jawabku.
"Because I just got my first salary, here is for you," katanya sambil menyodorkan 
satu bungkus isi 3 coklat bulat.
"eehh, いいですか? 大丈夫ですか? ありがとう"

Iya, sering ketika kami berpapasan saling melontarkan kata bahasa jepang, untuk melatih, sekadar ucapan “ohayou” di pagi hari sudah cukup.

Setelah mendapat coklat tsb, ada kekhawatiran lagi kalau coklat tsb ternyata haram dan aku merasa ngga enak kalau menolak ataupun membuangnya. Itu gestur yang sangat hangat diciptakan di negara yang dingin.

Selepas makanan panas dari microwave, aku lgsg masuk kamar dan mengecek dengan aplikasi Halal Japan. Dan tau apa hasilnya?
(gambar)

Ini halal!
Persentase kebetulannya sangat tinggi, karena buat apa dia ngecek halal atau haramnya terlebih dahulu, emang dia tau concern apalagi komposisi makanan itu halal atau haram?

Pertama, aku bersyukur punya roomate yang orangnya sangat baik, sopan, bersih, dan yaa semacam ini lah. Kedua, bisa2nya dia ingat roomatenya pas dia dpt gaji pertamanya, yang aku bahkan ngga ngasih kontribusi apapun di hidupnya. Ketiga, Tuhan maha tau, dia tau hambanya sedang galau, dia berikan hiburan walaupun mungkin seremeh coklat 3 biji. Tapi kesan yang diberikan sangatlah dalam, dari seorang non-muslim, negara yang nun jauh di sana, bisa2nya kepikiran ngasih hadiah merayakan gaji pertama ke roomatenya. Dan coklat tersebut halal, berarti apa artinya? Bisa kumakan!!!

La tahzan innallaha ma'ana

Pertolongan Tuhan untuk hambanya yang sedang bersedih dan gelisah, datang dalam waktu yang sangat cepat dan singkat. Tuhan berikan kemampuan untuk menyelami hikmah dari sekecil pengalaman memberikanku cara untuk tetap bertahan.


Update:
Selepas sholat jumat, 12:45 JST, kelas yang menyebalkan itu dimulai. Dengan sedikit memaksakan diri aku berusaha mengikuti kelas itu dengan sebisanya. Namun, ada hal yang di luar dugaan. Kelompokku yang biasanya rese tadi hari ini bisa diajak kerjasama dan bersemangat diajak berdiskusi, tak seperti sebelum-sebelumnya yang mengeluuh terus tentang kegiatannya.

Malamnya, aku makan coklat yang diberikan oleh temanku tadi. Coklatnya ternyata mirip seperti Roka, tapi versi premium.